Jumat, 13 April 2012
Rabu, 11 April 2012
Mine.
is not that hard. i know.
kesehatan menurun, membuat otak juga tidak berpikir jernih, menimbulkan efek sedikit menyebalkan.
kalo mau ngomongin relationship buat umur sekarang, mmm gabisa lagi dibilang masa-masa yang cuma 'coba-coba' bukan berati harus spaneng too serious dan jatohnya insecure berlebihan juga. in context we must think mature-ly. i'm not a child, you are not a child, it is not the time to act like child anymore.
perubahan.
yak. kalo di bandingin dari umur kelabilan jaman sma dulu emang beda banget ya. cara pandang, cara mikir, cara bicara, cara berkelakuan, dan cara buat sayang sama orang.
dulu mah, suka ya suka aja, sayang ya sayang aja. engga mikir sayang sama seseorang dg lebih bijak, bagaimana caranya mengatur kadar sayang dan controlled that. i'm surely masih berkutat dengan ini. soalnya gada yang bisa nerka apa yang hati kita mau lakuin, sebelum otak kita berpikir lebih dulu.
cuman yang aku tau, sekarang aku nemuin kamu, kamu yang beda, yang juga bikin cara pandangku tentang rasa sayang itu beda. ga peduli ada jarak 1000 kilometer, ga peduli banyak perbedaan diantara kita, yang penting dari banyak perbedaan itu aku nemuin sederhananya kamu. sederhananya canda dan tawa yang membahana di banyak malam yang berbeda, sederhananya rasa rasa yang menghinggapi batinku, dan sederhananya kamu yg membuat aku sangat kagum dengan kamu :)
i know i'm not perfect person, i know you're not too. but i just want you to know, that i love you without hoping any perfection. not just love your goodness, but also all that you have. your own. just you. mine :')
Label:
curhat
Selasa, 10 April 2012
Senin, 09 April 2012
untitled
Saat temaram senja menyisikkan pelik syahdu
Menjamah satu ketukan mata mata
Menapaki jejak jemari memilah buku
Menjengkali sejenak haus rindu untukmu
Sebaris tereja
Rindumu tak habis kuteguk
Adakah satu yang mau kau kecup?
Hening
Sembari tertatap cermin sendumu
Aku terbahak
Menertawakan sepi
Menyenandungkan secuil pupus
Lalu menyesalkan kata.
Apalah asa yang satir
Apalah rasa yang getir.
Lingkaran kosong tak berpenghuni
Kini tertata rapi
Terjejali namamu.
Label:
Sajak
Kamis, 29 Maret 2012
welcome, 20 years-old
Pagi yang tidak biasa, kuliah masih nanti sore, tapi entah mengapa tidur 5 jam sudah mencukupkan aku. tidak juga sebenarnya, terbangun karena masuk angin itu tidak ciamik sepertinya, di sambut teh hangat ibu dan berkata bahwa umurku sudah bertambah satu, berkata singkat bahwa aku harus lebih dewasa. yap! I'll do, Mom :)
sebelumnya sempat mengambil handphone yang masih tertancap charger dan lagunya masih nyala. *lupa dimatikan dari semalam* ada dua pesan singkat disana. dari seorang sahabat, dan kamu.
pesan singkat dari kamu sangat sederhana, hanya saja tampak berbeda, ya karena kamu :p
"selamat ulang tahun, sayang :D. semoga berkah dan barokah :*"
cukup membuat pagiku di kelilingi merah jambu seketika #cielah
disusul beberapa kata kata ucapan dari sahabat dan keluarga, pagi yang kepagian ini sangat amat hangat dan mengharukan :')
dan aku mau sujud syukur gara gara handphone seorang disana sudah lumayan membaik setelah terjun bebas ke bak mandi. hahaha. biar kangen yang menumpuk ini bisa tersampaikan secepatnya :)
sampai pukul 9.54 wib saat ini, sangat amat ingin mengucapkan syukur yang tidak henti hentinya ke Allah SWT Tuhan Maha Tau Segala. Sang Maha Bijaksana. aku yakin semua yang terjadi ini atas kehendakMu. terlebih Kau selalu berlaku baik meski kadang aku lalai mengingatMu. Terimakasih untuk seluruh berkah dan anugerah serta bahagia yang Kau beri :)
duapuluh, seperlima abad, kembali me-reka dan memutar dengan gerakan lambat memora dari tahun ke tahun silam. kembali mengingat apa apa yang sudah terjadi, sudah terlewat, atau bahkan sudah selesai terlaksana. dan berputar cepat ke masa disini, kekehidupan nyata yang harus tetap kujalani. untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, penuh keoptimisan dan kesederhanaan. semoga aku selalu diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi. dan mewujudkan mimpi dan cita yang belum sempat terealisasi.
welcome, 20 years-old
bring me to be a better person, to be more mature and can make proud everyone who love me.
satu lagi. semoga kisah yang kini berakhir bahagia. itu saja :)
Label:
curhat,
hidup,
kisahku,
tentang aku
Rabu, 28 Maret 2012
akhir 19
well, satu jam lagi, genap sudah saya menjadi dua puluh. sejenak ingin introspeksi diri, mengenang apa saja setahun terakhir.
masih dengan kisah kasih yang rancu, sedikit di bumbuhi benih cinta yang layu sebelum sempat berbunga. memangkas pesakitan pesakitan yang terlahir dari sebuah hasrat rasa yang sia. beruntung, saya masih diberi sedikit waktu untuk mencerna, menelaah tiap detik langkah hidup saya menjadi lebih baik. beruntung saya berada dalam lingakaran orang berhati tulus membimbing jalan saya yang senantiasa tidak melebihi batasnya. masih pada ranah yang aman. cukup.
3 bulan awal tahun yang begitu menguras otak, keringat, dan emosi. beberapa dari mereka, orang orang yang ternyata berhati keji itu seketika menemui ku dengan berbagai rupa-nya. meski dulu aku tak sekokoh yang mereka kira, kini aku sudah bisa bangga karena aku tidak akan lagi khawatir kebahagiaanku akan terenggut begitu saja. saya tidak boleh lengah. tidak boleh kalah.
sampai pada masa yang sederhana dan tidak ternyana. doa doa kecil yang terpanjatkan mulai mendekat. memunculkan secercah kisah lama yang hadir kembali dengan senyum mengembang, semesta mengiringi, menghantarkannya padaku, saat itu. saat benar benar nyaris terjatuh. hampir terjatuh. dan saya tau itu jawaban Tuhan Yang Maha Adil dan Bijaksana. sungguh tiada yang dapat menandingi kuasaMu :)
datang yang tak disengaja, menelusuk ke relung hati yang sedikit melemah, kau datang, dan mengisinya.
bagiku kau bukan tokoh baru. sudah banyak tau tentang seluk beluk kamu. tidak terduga. hanya saja aku tidak tau ini akan terjadi, akan benar benar nyata terjadi. sungguh.
tidak ada keputusan yang sia sia, sungguh, saya sudah belajar sedikit mengenai memutusan masalah dan resikonya, sudah makanan sehari hari, sudah jatuh beberapa kali, bangun, beranjak dan mencoba lagi, untuk lebih mengerti, untuk tidak jatuh lagi, untuk tetap kokoh berdiri disampingmu dengan semesta yang membahana, membukakan pintu bahagianya bersama.
dan, aku yakin ini bagian dari skenario indah yang Tuhan berikan untuk kita, untuk mencoba menyatukan berbagai perbedaan, jarak, dan waktu. setidaknya saya akan belajar jauh lebih banyak lagi tentang bagaimana kamu dan kehidupanmu, dan belajar kesabaran ekstra, pengorbanan, dan semangat yang tidak pernah padam.
tentang bagaimana bahwa bahagia itu sederhana, terlebih itu yang ingin ku utarakan padamu.
tahun baru, usia baru. menapaki duapuluh dengan senyum mengembang seraya mengepalkan tangan keudara dengan semangat, mimpi, dan cita yang lebih tinggi dari sebelumnya. itu harus.
sebuah akhir 19 yang ditutup dengan bubuhan sederhana, saya sudah siap menapakinya bersama anda.
:')
rizki ramadhani
Label:
curhat,
hidup,
kisahku,
tentang aku
Selasa, 13 Maret 2012
Sederhana yang Istimewa
Tersebut, lelaki sederhana yang istimewa.
untuk setiap ucapan selamat pagi, yang tidak ternyana membuat hariku cerah sedemikian rupa, meski hujan tak henti menghujam kotaku. Terlebih senyummu yang tak jera kau beri hanya sekedar untuk memicu aura positif di sekitarku. memberkan efek luar biasa pada sebab akibat alur aktivitasku setiap pagi.
untuk setiap kata semangat, yang kau lontarkan di sela kesibukanmu, di sela jeda waktu yang kau punya. hanya untuk memastikan, semangatku masih pada tempatnya semula. tidak lebih, tidak kurang. Yang selalu memercikkan kekuatan magis yang meringankan langkahku untuk tiap beban yang harus kupikul, tiap hambatan yang mesti diterjang. kau membuat semua menjadi sederhana.
untuk setiap kata maaf, yang terbesit ketika kau lalai sekedar membalas pesan singkat dariku, setiap kata yang kau rasa menyakiti perasaanku, atau karena kesibukanmu yang membuatmu tidak tahu kabar darimu. lalu kata maaf yang kau ucap ketika apa yang kau lakukan tidak sesuai apa harapku. meskipun aku tidak pernah mempermasalahkan itu, tidak pernah. aku tidak pernah merasa kau luput dari kesalahan, kau selalu memberiku lebih dari anganku, lebih dari sempurna.
dan untuk ribuan detik yang selalu kau luangkan setiap malam, hanya sekedar untuk mendengarkan keluh kesahku, mendengarkan ketakutanku tentang ini itu, dan saling berbagi canda, berbagi cerita tentang segala aral melintang di kehidupan singkat ini.. hingga menutupnya dengan ucapan selamat tidur sederhana.
dan pada akhirnya,
mungkin kau bukan yang pertama yang kulihat saat kubuka pelupuk mataku saat pagi tiba, tetapi kau seorang terakhir yang menutup hariku dengan senyum mengembang sampai pagi terbangun kemudian..
Rizki Ramadhani
@kii992
Selasa, 06 Maret 2012
puisi, integritas, dan twitter
Sajak, puisi atau untaian berbagai macam kata yang terurai sesuai musim sang penceritera-nya kini sudah merambah dunia twitter. Setiap insan bebas menyerukan jejak jejak inspirasi, dari perasaan perasaan, dari rasa marah, suka duka bahkan cinta bebas yang mendalam. Meski sajak atau puisi sudah ada sejak jaman nenek moyang kita, entah mengapa, kini saling bersua sajak dalam twitter seperti menjadi candu di twitter-land. Saya satu dari sekian penggunanya yang mengalami dampaknya.
Saya suka menulis, menulis apa saja, menulis guratan tak tentu, atau sekedar tulisan tulisan mententramkan hati, menumpahkan apa yang ada di pikiran, agar tidak sesak disana.
Hadirnya para penyuka sajak dan puisi di kalangan seleb-twit ini memicu saya untuk giat menelaah, giat menggali potensi demi potensi diri yang coba di kembangkan, tanpa mereka sadari, banyak manusia yang sekedar berdecak kagum terpana, banyak yang ternyata juga sebenarnya punya potensi, hanya kurang dilatih saja. Dan adanya mereka (para seleb-twit) benar benar menjadi pemicu semangat yang dahsyat, bagi saya.
Awal mula, saya mengenal kembali dunia sajak-mensajak di twitter-land dari kakak @adimasimmanuel berlanjut mengetahui beberapa yang lain seperti kakak @hurufkecil , @zarryhendrik , @rahneputri , @tuannico , dan masih banyak lagi.
Diadakannya acara tahunan #30harimenulissuratcinta juga saya akui menjadi pemicu saya dalam pencarian jati diri dalam mengolah kata kata sederhanya yang apik, yang membuat pesan pesan terpendam dalam diri saya menjadi tersalurkan, menjadi tertuang dalam wadah yang sebenarnya sudah ada sejak dulu, hanya saja saya tidak begitu menyadarinya.
Meski banyak berhamburan akun-akun twitter yang merajalela tentang sajak-mensajak, satu hal yang paling saya tidak suka. Para pengguna akun yang hanya ingin merambah jaringan ribuan follower, namun miskin integritas-nya. Bagaimana tidak? Mereka menghalalkan segala cara untuk membuat orang terpesona pada timeline mereka, namun mengesampingkan originalitas pada karya mereka.
Saya sering melihat pada linimasa kak @hurufkecil, tidak sedikit yang menangkap para ‘tersangka’ peng-copas karya karya nya yang memang luar biasa itu. Saya, sebagai seorang amatir dalam dunia sajak-mensajak, juga terpesona pada karya-karya beliau, namun seharusnya itu menjadi motivasi para pribadi masing masing untuk lebih tangguh dalam mengolah kata. Bukan dengan menjiplak karya orang lain demi kepentingan pribadi. Hal demikian bagi saya merupakan hal yang paling hina dalam dunia tulis menulis. Saya sering mengamati gaya menulis kakak-kakak seleb-twit, saya gunakan untuk referensi, dan mencoba menulis sendiri karya saya dengan mereka sebagai motivasi untuk tetap maju dalam dunia tulis menulis, bukan mencoba menjadi mereka, tapi mencoba meningkatkan kualitas saya dengan ciri khas yang saya miliki untuk bisa jadi sehebat mereka. Saya sungguh berterimakasih kepada mereka atas hadirnya mereka dalam meramaikan ranah puisi di twitter.
Bagi saya, dengan makin maraknya jaringan puisi di twitter seharusnya dapat menjadi acuan yang positif bagi mereka yang ingin menyalurkan bakatnya, bukan ajang peng-copas-an karya orang lain yang menimbulkan kesan negative dan perbuatan plagiarism yang sangat tidak layak untuk dibanggakan.
Seperti mention seorang kak @tuannico kepada saya, “ terus menulis. jangan pernah bosan. yang pasti: sesuatu yang ditulis dari hati, sampainya ke hati juga. “
Sebuah kata sederhana, bukan? Tetapi dengan begitu saya tidak akan lelah untuk belajar dan meniti kata demi kata, tetap menjadi diri saya, apa-adanya. baik di twitter-land atau di dunia nyata sekalipun, kata sederhana jauh lebih membahagiakan daripada kata sempurna sekalipun namun bukan murni karya kita sendiri.
Sekian dan tetap menulis :)
Label:
celoteh
Kamis, 01 Maret 2012
Sebuah Mula di Senja Pertama.
kamis sore yang hening,
memenuhi ruang ruang rindu di balik senyum yang berkisah
cukup untuk membenamkan pilu
menguburnya lamat-lamat
yang lalu memang sudah mendahului
kemarin pun tak akan hadir kembali.
sama seperti sisa kopi yang baru saja kuteguk.
hangatnya hilang, pahitnya tersisa.
tapi, dengan sendirinya pahitpun akan berlalu.
sesederhana kah itu, siklus hidup ini, semesta?
-menerawangi senja pertama dengan senyum mengembang.
Label:
Sajak
Selasa, 28 Februari 2012
Elegi
pagi menghembuskan nyawa ke seluruh langit dunia
tak terkecuali aku.
terhenyak dari mimpi berlapis jelaga
meyakinkan diriku bahwa aku masih menapaki jingga
tidak di dua dunia
tidak di semesta baka
sembari itu,
aku mengingat sejengkal malam lalu
yang kutulis bersama tawamu
meski berakhir dengan sendu di jejak kami
meski serpihan jenaka gugur satu-satu.
tak sempat ku ucap sepucuk rindu di sela dera air mata dusta
tak arang keangkuhan menjegal kasih yang terceritera
hanya saja..
beranjak dari lelah pembaringan,
aku melangkah meniti tepian dirimu
merencanakan kisah yang baru saja kubuat
mendekap bahagia bersama.
bukan begitu akhir yang kau puja, semesta?
Ia bergeming. menatapku tanpa suara.
saat tiba masanya ingin kugenggam cinta kita dalam satu bejana merah muda
seseorang menepuk pundakku perlahan
ia memandangku dengan tatapan bersahaja tetapi sendu.
siapa kamu?
masa sudah tiba, kamu harus pulang.
semesta tidak memberimu kesempatan kedua.
aku pucat pasi seketika
bagaimana bisa?
bahkan mengakhiri kisah ini pun belum.
aku tetap meracau tanpa henti
manakala seseorang yang berwajah sungguh cerah itu menggenggam lenganku
perlahan
membalikkan tujuan
disela menuju titian yang baru
ku menatap ke arahmu
ke wajahmu
tergeletak disana, seorang ia sedang menatap pilu penuh sesegukan sebuah bingai gambar klise.
didekapnya pula kemudian.
ia berbisik perlahan.
..semoga kau tenang. semoga Tuhan masih menghantarkan rinduku yang tak berujung padamu. semoga..
Label:
hidup,
just a poem,
Sajak
Minggu, 26 Februari 2012
Sajak Minggu Malam ; Sendirian.
Selamat Minggu Malam, hingar bingar kota.
seperti pasir putih tersapu awan jingga yang sejenak tertawa.
memastikan seluruh peluk dan rasa tiba pada masanya
memenuhi ujung satu dinding persinggahan
memburu tiap asa yang mengakar
menjamah onggok demi onggok kehampaan yang lelah terpekur
di kedalaman pahit yang tak habis aral
menjegal tiap perasaan
mendendangkan lagu pesakitan
memupuskan seluruh perjalanan panjang
menuju satu laku kehadiran semesta raya.
malam kian memekat jerat
didekapnya sekotak bejana yang hampir binasa
menjamahi pelbagai hati hati kosong
menjelajahi butir butir asa yang menggenang
menumbuhsuburkan penantian
mengembangkan harapan
semesta tidak berdusta
hanya saja harapnya terlalu sederhana
terjebak dalam desak sesumbar petaka
tampak lebih hina, dari mereka.
mereka pemuja rasa, pemuja cinta, pemuja malapetaka.
malam hendak kembali ke pembaringan
ia lelah mengusap penderitaan
ia lekas menyudahi pencitraan
lalu membenamkan sekelumit cinta pada jelaga hitam.
sendirian.
malam yang tidak pernah ingkar janji.
ia akan datang lagi. dengan cinta yang tidak setengah hati.
pasti.
seperti pasir putih tersapu awan jingga yang sejenak tertawa.
memastikan seluruh peluk dan rasa tiba pada masanya
memenuhi ujung satu dinding persinggahan
memburu tiap asa yang mengakar
menjamah onggok demi onggok kehampaan yang lelah terpekur
di kedalaman pahit yang tak habis aral
menjegal tiap perasaan
mendendangkan lagu pesakitan
memupuskan seluruh perjalanan panjang
menuju satu laku kehadiran semesta raya.
malam kian memekat jerat
didekapnya sekotak bejana yang hampir binasa
menjamahi pelbagai hati hati kosong
menjelajahi butir butir asa yang menggenang
menumbuhsuburkan penantian
mengembangkan harapan
semesta tidak berdusta
hanya saja harapnya terlalu sederhana
terjebak dalam desak sesumbar petaka
tampak lebih hina, dari mereka.
mereka pemuja rasa, pemuja cinta, pemuja malapetaka.
malam hendak kembali ke pembaringan
ia lelah mengusap penderitaan
ia lekas menyudahi pencitraan
lalu membenamkan sekelumit cinta pada jelaga hitam.
sendirian.
malam yang tidak pernah ingkar janji.
ia akan datang lagi. dengan cinta yang tidak setengah hati.
pasti.
Label:
just a poem,
Sajak
Sabtu, 25 Februari 2012
Kisah Klise dan Kamu!
bibir ini terlampau kelu untuk menampik rasa sengit yang telah kau haturkan. kau memang selangkah berlebih dari orang-orang itu. meski ku tau di luaran sana masih terbengkah banyak angka yang menyerupai kamu.
tetapi bagiku, yang seperti kamu cuma satu. dan iya itu memang kamu.
candamu membuatku berantakan. tawa berserakan. menahan geli dan mendongak pelan saat candamu mulai membahana. kau tau aku suka, caramu mendaur ulang rasa begitu sempurna. harus ku akui jejakmu serupa membekas di dinding dinding senyumku. taukah kamu?
di sela jeda, sapamu kadang basa basi. sekedar hanya pengisi waktu senja. hanya saat kau ingin bercerita. tetapi aku tak menangguhkannya, waktu itu kurasa aku beruntung, dapat kawan dengan tawa lepas dengan kekhasannya yang tak terduga. teman bicara yang setia. aku suka ketika kita saling berhalusinasi tentang bagaimana kita melucuti masa, saat bagaimana menarik-ulurkan rasa yang tak ternyana.. mulai bereinkarnasi dalam bilik linikala kita berdua.
sejujurnya aku juga tak menyadari, juga tak menampik keganjilan rasa dalam batin kami.
yang ku tau, begitu merah jambunya pipiku saat kau menatapku kala itu.
duduk berdua di tengah keramaian yang menyelimuti kota.
menghabiskan ber-ribu-ribu detik, yang begitu menyergap cepat. memburuku untuk cepat cepat menyelesaikan makan malam pertamaku, bersamamu.
menegaskan kembali seluruh warna yang tercipta,
meluruhkan seluruh luka dalam bejana jelaga,
menghantarkan rasa yang tertangkap basah sedang memperhatikan wajahnya.
kisah klise di malam kamis yang berakhir bahagia.
Rizki Ramadhani
@kii992
tetapi bagiku, yang seperti kamu cuma satu. dan iya itu memang kamu.
candamu membuatku berantakan. tawa berserakan. menahan geli dan mendongak pelan saat candamu mulai membahana. kau tau aku suka, caramu mendaur ulang rasa begitu sempurna. harus ku akui jejakmu serupa membekas di dinding dinding senyumku. taukah kamu?
di sela jeda, sapamu kadang basa basi. sekedar hanya pengisi waktu senja. hanya saat kau ingin bercerita. tetapi aku tak menangguhkannya, waktu itu kurasa aku beruntung, dapat kawan dengan tawa lepas dengan kekhasannya yang tak terduga. teman bicara yang setia. aku suka ketika kita saling berhalusinasi tentang bagaimana kita melucuti masa, saat bagaimana menarik-ulurkan rasa yang tak ternyana.. mulai bereinkarnasi dalam bilik linikala kita berdua.
sejujurnya aku juga tak menyadari, juga tak menampik keganjilan rasa dalam batin kami.
yang ku tau, begitu merah jambunya pipiku saat kau menatapku kala itu.
duduk berdua di tengah keramaian yang menyelimuti kota.
menghabiskan ber-ribu-ribu detik, yang begitu menyergap cepat. memburuku untuk cepat cepat menyelesaikan makan malam pertamaku, bersamamu.
menegaskan kembali seluruh warna yang tercipta,
meluruhkan seluruh luka dalam bejana jelaga,
menghantarkan rasa yang tertangkap basah sedang memperhatikan wajahnya.
kisah klise di malam kamis yang berakhir bahagia.
Rizki Ramadhani
@kii992
Label:
curhat,
just a poem,
Sajak
Kamis, 23 Februari 2012
Semesta dan Linimasa Cinta.
seperti biasa,
kau memintaku tetap terjaga dalam dini hari tanpa suara.
melempar canda merengkuh bahagia.
setidaknya, itu pernah terjadi.
kita berpeka tanpa menatap semesta,
saling bersapa tanpa mengenal kasta.
lalu kata demi kata mengisyaratkan
rona bahagia itu hampir nyata.
sampai suatu ketika,
malam pun enggan membendung asa
yang ingin kita rengkuh berdua.
ia melantunkan jejaknya jauh lebih cepat,
melesat kilat.
kemudian,
semesta masih berbaik hati mengeratkan kita dalam sketsanya.
mengurai kata dalam tiap sapa,
mengentas abu dengan doa merah jambu.
satu sapa hilang, terbang terbawa angan malang.
dua sapa enyah, dari malapetaka gundah.
tiga sapa melebur, seriring terkuburnya perngharapan
semesta mengulang kehadirannya,
ia tak sempat menyatakan duka,
tak urung menuntaskan luka,
ia hanya terpekur dalam kesunyian yang terkenang.
aku memandang semesta dalam keagungannya.
"inikah yang semestinya, semesta?"
semesta berdenging. berbisik di balik jelaga malam.
menghilang.
ia pergi.
dengan canda yg telah menjadi canduku,
dengan kisah yg sulit kutelaah,
dengan benahan asa yg tertumpuk sia-sia.
sesal sisanya.
kini,
tak ada sua untuk memenuhkan rindu yang berkepanjangan untukmu.
tidak ada.
yang tersisa hanya aksara pertanda,
dan sekelumit misterinya.
biarlah sedikit kala menemukan cinta sempurnanya, lalu semesta membumbungkan keajaibannya. tunggu saja :)
with fully honorable For you, Mr. S.
@kii992
kau memintaku tetap terjaga dalam dini hari tanpa suara.
melempar canda merengkuh bahagia.
setidaknya, itu pernah terjadi.
kita berpeka tanpa menatap semesta,
saling bersapa tanpa mengenal kasta.
lalu kata demi kata mengisyaratkan
rona bahagia itu hampir nyata.
sampai suatu ketika,
malam pun enggan membendung asa
yang ingin kita rengkuh berdua.
ia melantunkan jejaknya jauh lebih cepat,
melesat kilat.
kemudian,
semesta masih berbaik hati mengeratkan kita dalam sketsanya.
mengurai kata dalam tiap sapa,
mengentas abu dengan doa merah jambu.
satu sapa hilang, terbang terbawa angan malang.
dua sapa enyah, dari malapetaka gundah.
tiga sapa melebur, seriring terkuburnya perngharapan
semesta mengulang kehadirannya,
ia tak sempat menyatakan duka,
tak urung menuntaskan luka,
ia hanya terpekur dalam kesunyian yang terkenang.
aku memandang semesta dalam keagungannya.
"inikah yang semestinya, semesta?"
semesta berdenging. berbisik di balik jelaga malam.
menghilang.
ia pergi.
dengan canda yg telah menjadi canduku,
dengan kisah yg sulit kutelaah,
dengan benahan asa yg tertumpuk sia-sia.
sesal sisanya.
kini,
tak ada sua untuk memenuhkan rindu yang berkepanjangan untukmu.
tidak ada.
yang tersisa hanya aksara pertanda,
dan sekelumit misterinya.
biarlah sedikit kala menemukan cinta sempurnanya, lalu semesta membumbungkan keajaibannya. tunggu saja :)
with fully honorable For you, Mr. S.
@kii992
Label:
just a poem,
Sajak,
tentang aku
Catatan Sajak Malam Abu-Rabu
kita berjumpa kembali dalam ruang rasa yang sama, hanya saja kini terjamah sekat dan kiat pekat. #sajakmalam
cakrawala membuncah masa kepada luka semesta, mengernyitkan sayapnya, bersabda; terpekurlah sendu dalam benalu, tak ada kamu dalam aku #sajakmalam
menulis pesan ke tanah seberang, tak ada gaungnya. sepertinya, semesta sedang tidak ingin kita bercakap mesra. #sajakmalam
terkecup lelah dengan resah. terpekur rasa dalam masa yang hampir musnah. pasrah. #sajakmalam
aku lelah meracau. tapi rinduku tidak. mereka suka mengusik senja, bahkan menjejalkan namamu dalam keheningan semesta. #sajakmalam
sedang memetakan namanya dengan letak geografis hatimu. titik koordinatnya tidak terjamah, sepertinya. #sajakmalam
sepertinya tanah seberang sedang terlelap dalam riuh. manakala linimasamu teredam nyaring tak terseduh. #sajakmalam
aku mereka dermaga menuju akhir pesakitanmu. lalu mereka bahagia dalam doa kita. tidak ada, jawab semesta. #sajakmalam
sepertinya, langit sedang malas bersua dengan selasar keluh. sehingga hanya rinduku yang tercetak lembayung jingga penuh. #sajakmalam
@kii992
Label:
Sajak
Catatan Sajak Malam Hujan
wangi hujan dan kamu, rasa rasanya abu abu ku mengabu jadi merah jambu #sajakmalam
aku merindukanmu selayaknya merindukan wangi hujan tatkala kemarau tak jua mereda. susah mengingatnya, sulit menemukannya. #sajakmalam
rintik hujan yang jatuh tak pernah mengaduh, mengeluh bahkan memaksa berteduh. bolehkah aku menjadi hujan dalam hidupmu? #sajakmalam
hujan menghujani jelaga malam, membasahi batin yang masih kaku. sedikit berharap ia menghantarkan namaku menujumu. #sajakmalam
hujan telah mereda, sejenak kumemohon sepasang pesakitan tak lagi mendera. itu saja. #sajakmalam
sejenak hujan mengungkungkan jemarinya, meskipun begitu, rindu senantiasa menyertai di setiap tanah basah, di sela kemaraunya #sajakmalam
hujan menghujani lugumu dengan serpihan masalalu. meskipun bergitu, ia tak akan mengubah lagu sendu dalam jengkal malammu. #sajakmalam
akhir-akhir ini hujan mengelakkan senja, sepertinya, ia sedang cemburu buta. #sajakmalam
seperti halnya aku yang ingin menepikan hujan dalam kalutmu, aku juga ingin menyematkan sejejak rindu. #sajakmalam
@kii992
Label:
Sajak
Langganan:
Postingan (Atom)
