Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Agustus 2013

Elegija

jarak hanyalah sebilah luka yang tercemar melalui sudut-sudut kota; serupa jari yang mengingkari.

seperti pula waktu yang disebut-sebut menyembuhkan. nyatanya, menghapus dekapmu dari pelukku itu lebih dari sekedar membutuhkan waktu.

terkadang, waktulah yang membentangkan jarak terpanjang, ketika tiada waktu yang pada akhirnya nihil untuk kita sematkan berdua.

lalu pada tiap masa yang terbilang sia-sia, ada beberapa pelupuk yang basah, ada tiap lelah yang begitu saja terpasrah.

rasa-rasa tersebut mengumpul membuat jejak, serupa bekas luka yang bertubi menghantam dirinya sendiri. menyakiti.

dan ketika hingga degup rindu telah bisu, atau bahkan basi untuk sekedar mengeja dirinya sendiri, apa yang harus diharap kembali?

mungkin, satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri, adalah pergi.


Sabtu, 20 Juli 2013

Kisah Musim Gugur (Antologi Puisi Mahasiswa UAD)

Kisah Musim Gugur

karya Angga TS.

Jika aku duduk sendiri menikmati musim gugur
dan melihatmu seperti layang-layang yang
lepas. Lantas tertelan jarak yang kian menjauh.

Bersama dedaun yang gugur dan reranting yang jatuh
Suaraku menyayat seperti jerit yang memanggilmu

: dan itu juga tak menghentikanmu.

Selasa, 05 Maret 2013

Sepagi ini.

Sepagi ini aku terbangun karena suara menggelegar petir bersambut hujan yang kian menderas. mengumpulkan nyawa-nyawa yang belum terkumpul sempurna. 

Sepagi ini aku berkutat dengan mimpi buruk semalam. saat aku terhenyak pukul dua pagi dan mengatur nafas dan deru jantungku. terkaget.

Sepagi ini aku sudah mengetik tuts di tomblol keyboard, menulis tentang bagaimana masa masa hujan yang kuhabiskan untuk menikmati beberapa kenangan tentang kamu, dia, maupun kita.
tentang bagaimana kuhabiskan pagi, tentang bagaimana luka yang menguak di sebuah pagi yang dingin seperti ini, dengan iringan melodi rintik hujan yang menyempurnakan sendu. Iya, adegan demi adegan yang terputar dari jejak memoritmo yang terekam sempurna direlung otakku yang kemudian berderet menyembul satu-satu dan tersusun sedemikian rupa membuat lupa reda rasanya.

Sepagi ini aku juga masih menyematkan doa-doa kepada seluruh kamu yang entah. kepada hujan-hujan yang tidak kunjung reda, kepada pula perasaan yang entah kapan redamnya. aku tidak lagi bisa membaca hatiku, entah namamu, entah namanya yang sebenarnya telah benar-benar terukir di sana.

Sepagi ini aku menyeruput teh panas masih dengan latar tanah-tanah basah yang terdiam terhunus bulir-bulir hujan, dan aku masih saja berkutat dengan simpul-simpul rindu yang entah, siapa pemiliknya.

Jumat, 15 Februari 2013

Sebuah Catatan; Kepada Kenangan



Kepada kenangan kuletakkan seluruh kita yang pernah terlukis dalam kanvas bertemakan masa lalu. 

Kepada kenangan yang masih lebih fasih menyeduh sendu daripada menyembuh pilu; itu kamu.

Kepada kenangan yang sibuk mengepal genggam, disebuah sudut yang justru menyimpan sesal.

Kepada kenangan yang kusesap sembari mencecap secangkir kopi panas, aku mengingatmu; kembali.

Kepada kenangan yang muncul dari dasar-dasar ingatan, ketika rinduku jauh dari kata merelakan

Kepada kenangan yang tidak jemu mendekap puja, meski pada akhirnya merengkuh duka; menghapus kita. 

Aku mengaduh kepada kenangan., tentang tiap manis dan pahit yang bersamaan meluka.

Aku berdusta pada hujan, dan Kepada kenangan tentang rasa-rasa penasaran yang membuncah mengiringi keluku

Kepada kenangan yang kau cipta dari balik bilik belenggu senja, di masa yang tidak ternyana mengusik relung seluruh sukma

Kepada kenangan yang hadir di sela kesepian, saat temaram wajahmu begitu samar terlupakan

Selasa, 12 Februari 2013

Aku adalah hujan yang terjebak tujuh jeda pada sebuah jingga yang janggal.
:jejak-jejak tertinggal.

Satu

lucu.
rasanya ada kupu-kupu membuncah dari tiap tawa yang kau buat.
nyeri.
perutku sakit menahan gelak canda sore itu.
membuatku semalaman susah tidur.
membuatku tidak ingin tidur.

dari tiap tatap matamu,
aku tau berjuta kata ingin kau sampaikan.
tapi tak perlu.
setidaknya aku sudah tau hatimu.
namaku tetap akan ada pada urutan nomor satu.
satu langkah melebihi dia.


Senin, 04 Februari 2013

Secangkir Coklat Panas

ada secangkir coklat panas ketika aku menunggu kamu pulang.
dengan asap panas mengepul dari cangkirnya.

ada secangkir coklat panas ketika aku menanti rindu-rindu kamu datang.
dengan mencecap manis dari sekian manis yang ada melewati tepian cangkir itu.

ada secangkir coklat yang perlahan mendingin.
seiring dengan berbagai dusta yang kau berikan lewat pelukmu yang ternyata percuma.

ada secangkir coklat yang akhirnya basi.
ketika pada akhrnya
rindumu juga terbagi kepada dia.

rasa manis dari coklat yang telah dingin itu,
berubah menjadi hambar.
basi dimakan kenyataan.

Kamis, 09 Agustus 2012

Di Suatu Dini Hari

aku tau, ribuan detik yang sibuk merangkai takdirnya sendiri itu telah menemukan sebuah rasa yang begitu menakjubkan. ia dipertemukan oleh banyak kata yang kemudian tersusun sedemikian rupa memenuhi bilik bilik tiap jelaga malam yang kau singgahi, di banyak keheningan yang tercipta oleh beberapa masa menyedihkan yang sengaja tertoreh oleh orang-orang yang sibuk memondar mandirkan kebahagiaan, dan kini kembali disibukkan dengan gejolak sebuah perasaan yang tidak ia kira sebelumnya. ini berbeda katanya.

aku tau, puluhan ketidaksengajaan antara lini masa dia dan aku yang terpaut dalam satu ruang yang sama-sama bersemayam sepi kerinduan, diantara banyak sebab akibat semesta yang menjadikannya kita. iya, akhirnya kita mencoba merangkai susunan abjad bersama untuk saling menguatkan. tidak lagi hanya saling bertukar duka dan canda. disini, sejatinya pencapaian sebuah kebahagiaan itu baru saja akan dimulai.

lalu, selangkah demi selangkah kita coba mulai dengan menjejakkan kaki pada tanah yang sama, saling merengkuh dengan keterbatasan yang aku dan kamu miliki, juga bagaimana kita dengan seksama tidak memaksa kebahagiaan selalu bersama kita, namun selalu berusaha agar kebahagiaan itulah yang senantiasa datang dan menemani tiap malam kita. begitulah, iya begitulah. bukan kesempurnaan yang kita cari, tetapi kesederhanaan saling memiliki dan mempertahankan apa yang sudah ada, setidaknya, kita berdua sudah sama-sama berusaha saling meyakinkan.

iya, ketika sapa kemudian mengabur disela angin yang juga meratap, tersadar bahwa ia adalah salah satu manusia yang ditakdirkan untuk singgah pada beberapa jingga pada senja yang kita tambat bersama, juga banyak menit yang kita habiskan berbincang sampai subuh, atau disisipi dengan kata-kata ambigu menyebalkan yang begitu membuat semu merah pipiku. iya, kamu salah satunya, salah satu yang dipinjamkan Tuhan untuk membuatku mengerti, bahwa bahagia tidak hanya dapat direngkuh saat kamu menemukan bahagiamu, tapi juga saat kamu bisa menerima takdir semesta, ketika sewaktu-waktu kehilangan itu menerpa kehidupanmu. setidaknya, kamu mengajarkan bahwa kehilangan tidak selalu identik dengan kesedihan. 

iya, aku juga mengerti ketika kamu pada suatu hari berkata, "kamu harus bersiap kapanpun Tuhan mengubah skenario yang kita rancang sedemikian rupa, juga kebahagiaan yang sudah kita susun dengan segala detailnya. Tuhan Maha Adil dengan semua yang Dia kehendaki." 

Iya, untuk itulah aku juga akhirnya mengerti. Aku tau, kamu dan aku begitu berbeda, kita juga saling meyakini bahwa kekekalan sejatinya hanyalah tertera pada keyakinan yang kita toreh sendiri. tidak ada yang abadi, tidak ada yang sempurna. dari banyak kedustaan pada diri sendiri, dari banyak problematika yang sengaja dan tidak sengaja mengguncang rotasi lini masa rasa kita berdua, yang akhirnya, menunda kita untuk mewujudkan kebahagiaan dengan dua tangan saling memeluk dan dua rasa yang saling terpaut.

pada akhirnya, ada dua hati yang kembali memilah takdir hidup barunya masing-masing. sendiri.

Rabu, 11 Juli 2012

waktu, kenangan, rasa.


Ketika waktu tidak lagi menjadi milik kita berdua.  Kata kita menjelma menjadi kumpulan dua susunan kata aku dan kamu yang terpaut jeda.  Lalu bersamanya kita meraba bilik rindu masing-masing. Menelusup kedalam rasa paling terasing, yang saling tusuk menusuk belulangnya. Dan yang tersisa tidak ada lagi aku.

Ketika kenangan tidak lagi menjadi milik kita berdua. Ada banyak sebab yang sengaja kau toreh untuk membuat kata kita lenyap dari senyap. Lalu kemudian menyembul kembali dengan wajah yang berbeda, saat kenangan kita tertorehkan kisahnya. Bukan aku, jelasnya.

Ketika rasa tidak lagi menjadi milik kita berdua. Ada banyak canda yang ingin kukecup, yang selalu membuatku candu akan wangi tubuhmu. Dan beberapa masa setelahnya, aku tersadar bahwa seluruhnya hanya ilusi. Bukan mimpi. Hanya sebuah halusinasi yang menjelma menjadi rasa yang terbelah dua begitu saja, dan setengahnya lagi kau berikan kepadaku dengan darah tumpah tepat di telapak tanganku. Seketikanya ada sebuah rasa yang meluluhlantakkan benakku. Ini kah yang kau sebut luka?

Pada akhirnya kata kita tidak lagi bermakna, hanya sebuah frasa yang tercetak sementara, membuat rangkaian paragraf-paragraf sederhana yang sarat makna, lalu mengakhirinya dengan satu tanda baca, titik.

di suatu sudut keheningan, 09 Juli 2012

Jumat, 04 Mei 2012

Di Suatu Masa.


Noktah.

Sebab keheningan dalam kamu adalah teriakan dahsyat dari pergulatanku dengan ranah ini.

Minggu, 22 April 2012

iya, itu kamu.

ada secercah cahaya biru pada lagu yang mengiringi deru keluku.
padanya, memekakkan beberapa pasang rasa yang merasuk tanpa memaksa masuk.
iya, itu kamu.

Senin, 09 April 2012

untitled

Saat temaram senja menyisikkan pelik syahdu
Menjamah satu ketukan mata mata
Menapaki jejak jemari memilah buku
Menjengkali sejenak haus rindu untukmu
Sebaris tereja
Rindumu tak habis kuteguk
Adakah satu yang mau kau kecup?
Hening
Sembari tertatap cermin sendumu
Aku terbahak
Menertawakan sepi
Menyenandungkan secuil pupus
Lalu menyesalkan kata.
Apalah asa yang satir
Apalah rasa yang getir.
Lingkaran kosong tak berpenghuni
Kini tertata rapi
Terjejali namamu.

Kamis, 01 Maret 2012

Sebuah Mula di Senja Pertama.

kamis sore yang hening,
memenuhi ruang ruang rindu di balik senyum yang berkisah
cukup untuk membenamkan pilu
menguburnya lamat-lamat

yang lalu memang sudah mendahului
kemarin pun tak akan hadir kembali.
sama seperti sisa kopi yang baru saja kuteguk.
hangatnya hilang, pahitnya tersisa.
tapi, dengan sendirinya pahitpun akan berlalu.
sesederhana kah itu, siklus hidup ini, semesta?

-menerawangi senja pertama dengan senyum mengembang.

Selasa, 28 Februari 2012

Elegi

pagi menghembuskan nyawa ke seluruh langit dunia
tak terkecuali aku.
terhenyak dari mimpi berlapis jelaga
meyakinkan diriku bahwa aku masih menapaki jingga
tidak di dua dunia
tidak di semesta baka

sembari itu,
aku mengingat sejengkal malam lalu
yang kutulis bersama tawamu
meski berakhir dengan sendu di jejak kami
meski serpihan jenaka gugur satu-satu.

tak sempat ku ucap sepucuk rindu di sela dera air mata dusta
tak arang keangkuhan menjegal kasih yang terceritera
hanya saja..

beranjak dari lelah pembaringan, 
aku melangkah meniti tepian dirimu
merencanakan kisah yang baru saja kubuat
mendekap bahagia bersama.
bukan begitu akhir yang kau puja, semesta?

Ia bergeming. menatapku tanpa suara.

saat tiba masanya ingin kugenggam cinta kita dalam satu bejana merah muda
seseorang menepuk pundakku perlahan
ia memandangku dengan tatapan bersahaja tetapi sendu.

siapa kamu? 
masa sudah tiba, kamu harus pulang.
semesta tidak memberimu kesempatan kedua.

aku pucat pasi seketika
bagaimana bisa?
bahkan mengakhiri kisah ini pun belum.
aku tetap meracau tanpa henti 
manakala seseorang yang berwajah sungguh cerah itu menggenggam lenganku
perlahan
membalikkan tujuan

disela menuju titian yang baru
ku menatap ke arahmu
ke wajahmu

tergeletak disana, seorang ia sedang menatap pilu penuh sesegukan sebuah bingai gambar klise.
didekapnya pula kemudian.
ia berbisik perlahan.
..semoga kau tenang. semoga Tuhan masih menghantarkan rinduku yang tak berujung padamu. semoga..

#terinspirasi dari sebuah film, if only.

Minggu, 26 Februari 2012

Sajak Minggu Malam ; Sendirian.

Selamat Minggu Malam, hingar bingar kota.


seperti pasir putih tersapu awan jingga yang sejenak tertawa.
memastikan seluruh peluk dan rasa tiba pada masanya
memenuhi ujung satu dinding persinggahan
memburu tiap asa yang mengakar
menjamah onggok demi onggok kehampaan yang lelah terpekur 
di kedalaman pahit yang tak habis aral


menjegal tiap perasaan
mendendangkan lagu pesakitan
memupuskan seluruh perjalanan panjang
menuju satu laku kehadiran semesta raya.


malam kian memekat jerat
didekapnya sekotak bejana yang hampir binasa
menjamahi pelbagai hati hati kosong
menjelajahi butir butir asa yang menggenang
menumbuhsuburkan penantian
mengembangkan harapan


semesta tidak berdusta
hanya saja harapnya terlalu sederhana
terjebak dalam desak sesumbar petaka
tampak lebih hina, dari mereka.
mereka pemuja rasa, pemuja cinta, pemuja malapetaka.


malam hendak kembali ke pembaringan
ia lelah mengusap penderitaan
ia lekas menyudahi pencitraan
lalu membenamkan sekelumit cinta pada jelaga hitam. 
sendirian.


malam yang tidak pernah ingkar janji.
ia akan datang lagi. dengan cinta yang tidak setengah hati. 
pasti.

Sabtu, 25 Februari 2012

Kisah Klise dan Kamu!

bibir ini terlampau kelu untuk menampik rasa sengit yang telah kau haturkan. kau memang selangkah berlebih dari orang-orang itu. meski ku tau di luaran sana masih terbengkah banyak angka yang menyerupai kamu.
tetapi bagiku, yang seperti kamu cuma satu. dan iya itu memang kamu.


candamu membuatku berantakan. tawa berserakan. menahan geli dan mendongak pelan saat candamu mulai membahana. kau tau aku suka, caramu mendaur ulang rasa begitu sempurna. harus ku akui jejakmu serupa membekas di dinding dinding senyumku. taukah kamu?


di sela jeda, sapamu kadang basa basi. sekedar hanya pengisi waktu senja. hanya saat kau ingin bercerita. tetapi aku tak menangguhkannya, waktu itu kurasa aku beruntung, dapat kawan dengan tawa lepas dengan kekhasannya yang tak terduga. teman bicara yang setia. aku suka ketika kita saling berhalusinasi tentang bagaimana kita melucuti masa, saat bagaimana menarik-ulurkan rasa yang tak ternyana.. mulai bereinkarnasi dalam bilik linikala kita berdua.


sejujurnya aku juga tak menyadari, juga tak menampik keganjilan rasa dalam batin kami. 


yang ku tau, begitu merah jambunya pipiku saat kau menatapku kala itu.
duduk berdua di tengah keramaian yang menyelimuti kota.
menghabiskan ber-ribu-ribu detik, yang begitu menyergap cepat. memburuku untuk cepat cepat menyelesaikan makan malam pertamaku, bersamamu.


menegaskan kembali seluruh warna yang tercipta,
meluruhkan seluruh luka dalam bejana jelaga,
menghantarkan rasa yang tertangkap basah sedang memperhatikan wajahnya.


kisah klise di malam kamis yang berakhir bahagia. 


Rizki Ramadhani
@kii992

Kamis, 23 Februari 2012

Semesta dan Linimasa Cinta.

seperti biasa,
kau memintaku tetap terjaga dalam dini hari tanpa suara.
melempar canda merengkuh bahagia.
setidaknya, itu pernah terjadi.


kita berpeka tanpa menatap semesta,
saling bersapa tanpa mengenal kasta.
lalu kata demi kata mengisyaratkan
rona bahagia itu hampir nyata.


sampai suatu ketika,
malam pun enggan membendung asa
yang ingin kita rengkuh berdua.
ia melantunkan jejaknya jauh lebih cepat,
melesat kilat.


kemudian,
semesta masih berbaik hati mengeratkan kita dalam sketsanya.
mengurai kata dalam tiap sapa,
mengentas abu dengan doa merah jambu.


satu sapa hilang, terbang terbawa angan malang.
dua sapa enyah, dari malapetaka gundah.
tiga sapa melebur, seriring terkuburnya perngharapan


semesta mengulang kehadirannya,
ia tak sempat menyatakan duka,
tak urung menuntaskan luka,
ia hanya terpekur dalam kesunyian yang terkenang.


aku memandang semesta dalam keagungannya.
"inikah yang semestinya, semesta?" 
semesta berdenging. berbisik di balik jelaga malam.
menghilang.


ia pergi.
dengan canda yg telah menjadi canduku,
dengan kisah yg sulit kutelaah,
dengan benahan asa yg tertumpuk sia-sia.
sesal sisanya.


kini, 
tak ada sua untuk memenuhkan rindu yang berkepanjangan untukmu.
tidak ada.
yang tersisa hanya aksara pertanda,
dan sekelumit misterinya.


biarlah sedikit kala menemukan cinta sempurnanya, lalu semesta membumbungkan keajaibannya. tunggu saja :)


with fully honorable For you, Mr. S.


@kii992

Catatan Sajak Malam Abu-Rabu

kita berjumpa kembali dalam ruang rasa yang sama, hanya saja kini terjamah sekat dan kiat pekat. #sajakmalam

cakrawala membuncah masa kepada luka semesta, mengernyitkan sayapnya, bersabda; terpekurlah sendu dalam benalu, tak ada kamu dalam aku #sajakmalam

menulis pesan ke tanah seberang, tak ada gaungnya. sepertinya, semesta sedang tidak ingin kita bercakap mesra. #sajakmalam

terkecup lelah dengan resah. terpekur rasa dalam masa yang hampir musnah. pasrah. #sajakmalam

aku lelah meracau. tapi rinduku tidak. mereka suka mengusik senja, bahkan menjejalkan namamu dalam keheningan semesta. #sajakmalam

sedang memetakan namanya dengan letak geografis hatimu. titik koordinatnya tidak terjamah, sepertinya. #sajakmalam

sepertinya tanah seberang sedang terlelap dalam riuh. manakala linimasamu teredam nyaring tak terseduh. #sajakmalam

aku mereka dermaga menuju akhir pesakitanmu. lalu mereka bahagia dalam doa kita. tidak ada, jawab semesta. #sajakmalam

sepertinya, langit sedang malas bersua dengan selasar keluh. sehingga hanya rinduku yang tercetak lembayung jingga penuh. #sajakmalam

@kii992

Catatan Sajak Malam Hujan

wangi hujan dan kamu, rasa rasanya abu abu ku mengabu jadi merah jambu #sajakmalam


aku merindukanmu selayaknya merindukan wangi hujan tatkala kemarau tak jua mereda. susah mengingatnya, sulit menemukannya. #sajakmalam

rintik hujan yang jatuh tak pernah mengaduh, mengeluh bahkan memaksa berteduh. bolehkah aku menjadi hujan dalam hidupmu? #sajakmalam

hujan menghujani jelaga malam, membasahi batin yang masih kaku. sedikit berharap ia menghantarkan namaku menujumu. #sajakmalam 

hujan telah mereda, sejenak kumemohon sepasang pesakitan tak lagi mendera. itu saja. #sajakmalam

sejenak hujan mengungkungkan jemarinya, meskipun begitu, rindu senantiasa menyertai di setiap tanah basah, di sela kemaraunya #sajakmalam

hujan menghujani lugumu dengan serpihan masalalu. meskipun bergitu, ia tak akan mengubah lagu sendu dalam jengkal malammu. #sajakmalam

akhir-akhir ini hujan mengelakkan senja, sepertinya, ia sedang cemburu buta. #sajakmalam

seperti halnya aku yang ingin menepikan hujan dalam kalutmu, aku juga ingin menyematkan sejejak rindu. #sajakmalam

@kii992