Tampilkan postingan dengan label petikan kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petikan kata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juli 2013

dalam sahut dini hari ketika beberapa pejam begitu sukar untuk meredam lebam.
entah, mungkin malam merindukan pelukan.

Jumat, 19 Juli 2013

Sebuah Jumpa di Bulan Juli

Hujan menyambut mula di bulan Juli

Menyenandungkan sajak-sajak pendek dari doa-doa yang terendap di ujung kuku

Aku turut melipat permohonan dengan namamu tepat sebagai penutupnya


Semoga.

Selasa, 11 Juni 2013

162 of 365

ada sebuah cahaya yang perlahan meredup. entah sebuah ragu atau kegamangan yang mengusik di sela-sela telinga. 

aku tau, dan aku yakin apa yang tertuju.

Kamis, 02 Mei 2013

Ketika Kamu.

Ketika kepedulianmu adalah sebuah alibi untuk bersua. aku benci. aku benci ketika kata harus begitu semu dan menusuk-nusuk jingga.

kalau kamu masih peduli, bisakah kembali dengan cara yang semestinya?

Senin, 15 April 2013

Rindu Itu Rancu



source: minoral.deviantart.com


semesta tidak pernah mengenal rasa.
ia bisu dalam kerancuannya.

semesta bergulir dengan sendirinya.
tanpa mengumbar janji
tanpa menebar aksara

rindu itu datang dengan sendirinya.
entah dari genangan yang terusik,
atau dari tiap bulir yang menjatuhkan diri.

rindu itu rancu.
sama rancunya dengan semesta.
sama peliknya dengan semesta.

dan bilamana esok lusa rinduku tak lagi rancu,
adakah disana namamu tercetak?

Selasa, 26 Maret 2013

85 of 365

menapaki diri dengan kaki sendiri memang tidak mudah. tetapi hanya bergelayut pada janji yang tak pasti jauh lebih terasa hambar untuk di cecap lagi.

Jumat, 15 Maret 2013

Senja Memerah dan Kawanannya

Senja memerah. aku menengadah. rinduku menjelajah. - @kiramadhani

jadi jatuh cintaku yang mana yang menurutmu sia-sia? - @anggarief

Senja memerah. aku gerah. mata merah. - @bagussuprayitno

Senja memerah. air mata tercurah. doa terpasrah - @anggarief

jadi sebuah perasaan rindu mana lagi kah yang menurutmu kupalsukan? - @kiramadhani

cuma kangen yang enggak bisa dipalsuin cina. - @anggarief

Senja memerah. Jingga terbelah. Luka terbilah - @kiramadhani


Senin, 11 Maret 2013

Sebuah Mula


Yogyakarta, 10 Maret 2013

Meja nomor delapan belas, sehabis latihan.

Saya dan dia (yang seharusnya bertiga) berada pada sebuah situasi yang masih tidak kita percayai sampai saat ini. Ini hanya seminggu setelah kami mengetahui nama masing-masing. Ini baru tiga empat kali bertatap wajah dan bertegur sapa sebagai dua orang asing.

Entah berapa kata, ‘kok bisa ya?’ yang terucap dari bibir kami berdua. Lalu setelahnya mempercayai bahwa semua konspirasi ini memang begitu benar adanya.

Betapa hidup adalah hasil dari tiap langkah yang kita tapak, ketika halang rintang adalah resiko dari batu-batuan yang bertebar di jalanan. Dan setelahnya akan ada sebuah jawab dari tanya dan ekspektasi yang telah terbentuk dari angan dan ingin yang tersusun sebelumnya. Entah baik, entah tidak. Semua itu tergantung daripada bagaimana kita memandang sebuah jerih dari tiap peluh yang terkuras tersebut.

Hidup terlalu singkat untuk membuatnya menjadi sia-sia. Karena itulah kami juga berbicara tentang masa depan. Tentang mimpi masing-masing, tentang harapan dan doa-doa. Bagaimana kita tetap fokus dan memperjuangkan bagaimana hidup kami selanjutnya bertahan dan berjalan. Dengan langkah kaki masing-masing, namun tetap saling menguatkan, mendukung dan mengamini dalam batin masing-masing kami.

Ketika kami berusaha keluar dari zona aman, ketika kami berusaha terjun dalam hal yang asing dan penuh liku di mata kami, kami menemukan sebuah konspirasi zionis yang membuat decak kagum kami, karena kami tahu, kami dipertemukan dengan seluruh beda dan langkah yang berbeda arah mulanya. Dan di sinilah kami, membuat sebuah kisah persahabatan dan pertemanan yang saling mengumbar tawa dan membagi cerita.

and this story has just begin..

70 of 365

Bagaimana kita keluar dari zona aman kita dan terlepas adalah tantangan kehidupan yang akan membuat sadar bahwa hidup tidak selalu begitu-begitu saja. life is never flat :)

Hujan Pagi Ini

Pagi ini gerimis membasahi kota
rintik halusnya menerpa wajahku
seiring dengan itu ada rindu dari tiap bulir yang tergenang
tapi yang tersebut bukan namamu lagi

hujan meluruhkan rasa-rasa yang tersisa karenamu
hujan membasuh sejumput duka yang kemarin lalu enggan beranjak dari langit-langit aku
dan bersamaan dengan hujan kali ini aku tersenyum menengadah,
berseru seraya menikmati sisa gerimis hujan
yang sedikit demi sedikit tersapu matahari
lalu kembali menikmati sebuah bilik hati yang tidak berpenghuni~

Selasa, 05 Maret 2013

ada sebuah doa dan rindu yang sengaja kusematkan dibalik hujan pagi ini.

64 of 365

Jangan kamu menyisakan rasa apapun untuk orang yang tidak kamu tunjuk sebagai pilihanmu, baik rasa sayang, benci, kecewa, atau bahkan rasa rindu.

Sepagi ini.

Sepagi ini aku terbangun karena suara menggelegar petir bersambut hujan yang kian menderas. mengumpulkan nyawa-nyawa yang belum terkumpul sempurna. 

Sepagi ini aku berkutat dengan mimpi buruk semalam. saat aku terhenyak pukul dua pagi dan mengatur nafas dan deru jantungku. terkaget.

Sepagi ini aku sudah mengetik tuts di tomblol keyboard, menulis tentang bagaimana masa masa hujan yang kuhabiskan untuk menikmati beberapa kenangan tentang kamu, dia, maupun kita.
tentang bagaimana kuhabiskan pagi, tentang bagaimana luka yang menguak di sebuah pagi yang dingin seperti ini, dengan iringan melodi rintik hujan yang menyempurnakan sendu. Iya, adegan demi adegan yang terputar dari jejak memoritmo yang terekam sempurna direlung otakku yang kemudian berderet menyembul satu-satu dan tersusun sedemikian rupa membuat lupa reda rasanya.

Sepagi ini aku juga masih menyematkan doa-doa kepada seluruh kamu yang entah. kepada hujan-hujan yang tidak kunjung reda, kepada pula perasaan yang entah kapan redamnya. aku tidak lagi bisa membaca hatiku, entah namamu, entah namanya yang sebenarnya telah benar-benar terukir di sana.

Sepagi ini aku menyeruput teh panas masih dengan latar tanah-tanah basah yang terdiam terhunus bulir-bulir hujan, dan aku masih saja berkutat dengan simpul-simpul rindu yang entah, siapa pemiliknya.

Sabtu, 02 Maret 2013

61 of 365

aku mengawali bulan dengan perasaan suka cita, sama seperti doa-doa suka cita yang kusebut bersama namamu.

Senin, 25 Februari 2013

56 of 365

Jika dia tidak pantas ada saat kamu sedih, dia tidak lebih layak hadir saat kamu bahagia.

-24 Februari, Es Bangjoe Selokan Mataram-

Selasa, 19 Februari 2013

50 of 365

 ketika itu hujan mengujam nadi-nadi rindu, lalu dusta menyergap diam-diam dengan tajam; menerkam sampai lebam. 

Minggu, 17 Februari 2013

48 of 365

kepada pagi; yang dapat memunculkan sebuah ingatan lebih lamat, lebih lambat.
merindukanmu belum dilarang, kan?

Sabtu, 16 Februari 2013

47 of 365

kamu bukan gagal memahamiku, hanya saja aku tidak tau bagaimana cara memahami kamu.

Jumat, 15 Februari 2013

46 of 365

Jika Tuhan memberimu sebuah emas di ujung pelangi, apakah kau masih akan meyakini bahwa janji Tuhan itu tidak pasti? 

Sebuah Catatan; Kepada Kenangan



Kepada kenangan kuletakkan seluruh kita yang pernah terlukis dalam kanvas bertemakan masa lalu. 

Kepada kenangan yang masih lebih fasih menyeduh sendu daripada menyembuh pilu; itu kamu.

Kepada kenangan yang sibuk mengepal genggam, disebuah sudut yang justru menyimpan sesal.

Kepada kenangan yang kusesap sembari mencecap secangkir kopi panas, aku mengingatmu; kembali.

Kepada kenangan yang muncul dari dasar-dasar ingatan, ketika rinduku jauh dari kata merelakan

Kepada kenangan yang tidak jemu mendekap puja, meski pada akhirnya merengkuh duka; menghapus kita. 

Aku mengaduh kepada kenangan., tentang tiap manis dan pahit yang bersamaan meluka.

Aku berdusta pada hujan, dan Kepada kenangan tentang rasa-rasa penasaran yang membuncah mengiringi keluku

Kepada kenangan yang kau cipta dari balik bilik belenggu senja, di masa yang tidak ternyana mengusik relung seluruh sukma

Kepada kenangan yang hadir di sela kesepian, saat temaram wajahmu begitu samar terlupakan