Tampilkan postingan dengan label #proyekrandomwriting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #proyekrandomwriting. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Agustus 2013

Elegija

jarak hanyalah sebilah luka yang tercemar melalui sudut-sudut kota; serupa jari yang mengingkari.

seperti pula waktu yang disebut-sebut menyembuhkan. nyatanya, menghapus dekapmu dari pelukku itu lebih dari sekedar membutuhkan waktu.

terkadang, waktulah yang membentangkan jarak terpanjang, ketika tiada waktu yang pada akhirnya nihil untuk kita sematkan berdua.

lalu pada tiap masa yang terbilang sia-sia, ada beberapa pelupuk yang basah, ada tiap lelah yang begitu saja terpasrah.

rasa-rasa tersebut mengumpul membuat jejak, serupa bekas luka yang bertubi menghantam dirinya sendiri. menyakiti.

dan ketika hingga degup rindu telah bisu, atau bahkan basi untuk sekedar mengeja dirinya sendiri, apa yang harus diharap kembali?

mungkin, satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri, adalah pergi.


Sabtu, 03 Agustus 2013

Tuhan dan Permohonan

Pagi ini. Sengaja enggak tidur abis sahur. Udah mulai puasa lagi abis tiga hari absen gegara radang dan flu yang sukses bikin tepar berhari-hari.

Aku nulis ini sambil nahan pipis, fyi. Tapi itu gak penting. Yang penting in my opinion ketika ada ‘something to write’ I must write it immedietly. Whenever, wherever.

Skip yang enggak perlu dibahas.

Pukul tujuh lebih tiga puluh menitan, entah tepatnya jam berapa. Masih menggenggam buku antologi rasa milik ika natassa, setelah membaca halaman 265 paragraf satu buku tersebut

Bukan masalah bukunya, ceritanya, atau adegan apa yang sedang ditulis di situ.

Tiba-tiba, dengan pikiran yang ‘aman’ dan tidak memusingkan sesuatu hal atau seseorang yang begitu penting untuk di-penting-kan pagi ini atau hari hari sebelum ini, aku tiba tiba saja ingin menulis beberapa kalimat tentang Tuhan dan permohonan.

Pernah memohon sesuatu yang bisa dibilang lebih ke arah negatif dan kejadian? Trus kamu bakal bilang “Wah ternyata doaku manjur, pertanda apa ini?” oke, buat mempersempit pandangan tentang konteks ‘negatif’ -yang tertulis di atas- itu misalnya begini:
“Gila, gue enggak rela dia jadian sama itu. Gue doain cepet cepet putus deh biar dia bisa sama gue.”
Ini cuma contoh ya, kalo ada kesindir ya maap maap aja. Hehe. Well, menurutku itu tidak selalu bisa dianggap sebagai sebagai pertanda baik, buatmu. Coba kita liat dari sisi lain, in case doamu itu gak terkabul, kamu pasti bakal ngumpat-ngumpat trus bilang: “buset, gue kurang baik apa coba sampe mereka awet bener. Dan bla bla bla bla. Mengeluh, lebih tepatnya. Dan ya, entah kenapa kalau aku, garis bawahi pendapatku yang mungkin sedikit berbeda ini ya, hehe. Lebih cenderung takut dan berhati-hati atas apa yang akan aku mohonkan kepada Tuhan.

Kalau sekarang aku memohon pada Tuhan, “Ya Tuhan, bisakah dekatkan dia denganku? Aku ingin hidup dengannya” let say like that. Lalu Tuhan mengabulkan, tetapi pada kenyataannya *amit amit* *getok dinding* ternyata aku atau dia memang sebaiknya tidak bersama sama atau pada akhirnya menyadari bahwa kita atau aku hanya termakan kepinginan sesaat aja sama kayak kalo lagi cuci mata di mall dan jatuh cinta pada tas branded atau sepatu berkelas. Well, Permohonan itu sesuatu yang sakral, tidak bisa di buat main main dan atau di buat bercanda.

Tapi kan, bisa jadi itu sebuah pertanda yang diberikan Tuhan supaya kita menangkapnya dan menjalankan sisanya alias dengan usaha kita sendiri?

Ya, aku juga tidak meragukan itu, hanya saja tanda-tanda tersebut jangan kita gunakan dengan sebelah otak atau hati saja. We must think what we want to do with this kind of plan. Justru karena kita tidak tau how very unpredictable and complicated the God’s plan is. Kalo enggak mau mengumpat dan menyalahkan Tuhan atas kesalahan yang kamu buat sendiri karena kamu lupa dan atau kamu tidak sadar hatimu-lah yang membuatmu melakukan those kind of things that sebenarnya harus kamu pikirkan matang-matang. ya gak sih?

Uhm. Sepertinya tulisanku kali ini lebih absurd ya?


Intinya adalah: hati-hati dengan permohonan, siapa tau Tuhan mengabulkannya justru untuk mengujimu.

Kamis, 01 Agustus 2013

Puisi Rancu

Manakala senja
dan mentari luruh menyembunyikan dukanya

di saat sepatu-sepatu tertunduk rapi terhujani rancu
dan debu-debu mendadak mencari perhatian juga.

ini tulisan apa?

entah.

ini untuk apa?

tidak tau.

mungkin jemari belum bosan mengglitik linimasa.
atau beberapa rasa yang masih ingin menyimpan rahasia.

mungkin.


Rabu, 31 Juli 2013

Mereka dan Kesederhanaan

Hari ini adalah seminggu setelah penerjunan kkn dari kampus saya.
kebetulan, unit kami mendapat sebuah desa bernama desa sawahan, RW 05, Juwiring, Klaten.
Tau? aku sendiri baru tau waktu kkn ini. hehe.

Ngomong-ngomong tentang kkn, semingguan ini yang menarik perhatianku adalah anak-anak di sini. tentang bagaimana mereka bermain tanpa beban, meskipun orang tua mereka tidak selalu bisa memenuhi apa yang mereka inginkan, dari tatap tatap mata mereka, saya melihat bola mata penuh semangat untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

Sesederhana saat kami membuatkan mereka mainan dari kertas lipat ini.
sederhana, mudah, tidak terlalu rumit.

Tapi melihat mereka tersenyum lepas, bangga setelah melihat karya hasil mereka sendiri, itu membuat saya trenyuh. ah, sebagai anak bungsu saya selalu ingin memiliki adik. dan, disini saya memiliki puluhan adik yang siap mengajak bermain dari pagi sampai malam.





Semalam, aku berbicara dengan salah satu anak bernama andika, kelas 6 sd. Adalah seorang anak dari toko di sebelah masjid. Dia, bercerita bagaimana dia harus membantu ibunya membuat makanan untuk dijual, sampai tidak sempat ikut les dari kami tempo hari. Uhm. Hidup. Tapi banyak kehidupan nyata dengan berbagai pilihan yang sudah ada, dan sesederhana mereka menjalani kehidupan mereka dengan keadaan yang ada.Saya dan Andika juga sharing tentang bagaimana kecukupan materi tidak melulu sama dengan kecukupan kebahagiaan. Dan ya, kebahagiaan itu tidak dinilai dari seberapa materi yang kita punya, tapi seberapa banyak orang yang menyayangimu, dan berusaha membahagiakanmu yang juga selalu membahagiakan mereka, hidup rukun, tentram dan damai. Bukankah kebahagiaan adalah bagian dari kesederhanaan?


saya mulai jatuh cinta pada desa ini.