Tampilkan postingan dengan label just a poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label just a poem. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Februari 2013

Sebuah Catatan; Kepada Kenangan



Kepada kenangan kuletakkan seluruh kita yang pernah terlukis dalam kanvas bertemakan masa lalu. 

Kepada kenangan yang masih lebih fasih menyeduh sendu daripada menyembuh pilu; itu kamu.

Kepada kenangan yang sibuk mengepal genggam, disebuah sudut yang justru menyimpan sesal.

Kepada kenangan yang kusesap sembari mencecap secangkir kopi panas, aku mengingatmu; kembali.

Kepada kenangan yang muncul dari dasar-dasar ingatan, ketika rinduku jauh dari kata merelakan

Kepada kenangan yang tidak jemu mendekap puja, meski pada akhirnya merengkuh duka; menghapus kita. 

Aku mengaduh kepada kenangan., tentang tiap manis dan pahit yang bersamaan meluka.

Aku berdusta pada hujan, dan Kepada kenangan tentang rasa-rasa penasaran yang membuncah mengiringi keluku

Kepada kenangan yang kau cipta dari balik bilik belenggu senja, di masa yang tidak ternyana mengusik relung seluruh sukma

Kepada kenangan yang hadir di sela kesepian, saat temaram wajahmu begitu samar terlupakan

Selasa, 12 Februari 2013

Aku adalah hujan yang terjebak tujuh jeda pada sebuah jingga yang janggal.
:jejak-jejak tertinggal.

Satu

lucu.
rasanya ada kupu-kupu membuncah dari tiap tawa yang kau buat.
nyeri.
perutku sakit menahan gelak canda sore itu.
membuatku semalaman susah tidur.
membuatku tidak ingin tidur.

dari tiap tatap matamu,
aku tau berjuta kata ingin kau sampaikan.
tapi tak perlu.
setidaknya aku sudah tau hatimu.
namaku tetap akan ada pada urutan nomor satu.
satu langkah melebihi dia.


Rabu, 11 Juli 2012

waktu, kenangan, rasa.


Ketika waktu tidak lagi menjadi milik kita berdua.  Kata kita menjelma menjadi kumpulan dua susunan kata aku dan kamu yang terpaut jeda.  Lalu bersamanya kita meraba bilik rindu masing-masing. Menelusup kedalam rasa paling terasing, yang saling tusuk menusuk belulangnya. Dan yang tersisa tidak ada lagi aku.

Ketika kenangan tidak lagi menjadi milik kita berdua. Ada banyak sebab yang sengaja kau toreh untuk membuat kata kita lenyap dari senyap. Lalu kemudian menyembul kembali dengan wajah yang berbeda, saat kenangan kita tertorehkan kisahnya. Bukan aku, jelasnya.

Ketika rasa tidak lagi menjadi milik kita berdua. Ada banyak canda yang ingin kukecup, yang selalu membuatku candu akan wangi tubuhmu. Dan beberapa masa setelahnya, aku tersadar bahwa seluruhnya hanya ilusi. Bukan mimpi. Hanya sebuah halusinasi yang menjelma menjadi rasa yang terbelah dua begitu saja, dan setengahnya lagi kau berikan kepadaku dengan darah tumpah tepat di telapak tanganku. Seketikanya ada sebuah rasa yang meluluhlantakkan benakku. Ini kah yang kau sebut luka?

Pada akhirnya kata kita tidak lagi bermakna, hanya sebuah frasa yang tercetak sementara, membuat rangkaian paragraf-paragraf sederhana yang sarat makna, lalu mengakhirinya dengan satu tanda baca, titik.

di suatu sudut keheningan, 09 Juli 2012

Selasa, 28 Februari 2012

Elegi

pagi menghembuskan nyawa ke seluruh langit dunia
tak terkecuali aku.
terhenyak dari mimpi berlapis jelaga
meyakinkan diriku bahwa aku masih menapaki jingga
tidak di dua dunia
tidak di semesta baka

sembari itu,
aku mengingat sejengkal malam lalu
yang kutulis bersama tawamu
meski berakhir dengan sendu di jejak kami
meski serpihan jenaka gugur satu-satu.

tak sempat ku ucap sepucuk rindu di sela dera air mata dusta
tak arang keangkuhan menjegal kasih yang terceritera
hanya saja..

beranjak dari lelah pembaringan, 
aku melangkah meniti tepian dirimu
merencanakan kisah yang baru saja kubuat
mendekap bahagia bersama.
bukan begitu akhir yang kau puja, semesta?

Ia bergeming. menatapku tanpa suara.

saat tiba masanya ingin kugenggam cinta kita dalam satu bejana merah muda
seseorang menepuk pundakku perlahan
ia memandangku dengan tatapan bersahaja tetapi sendu.

siapa kamu? 
masa sudah tiba, kamu harus pulang.
semesta tidak memberimu kesempatan kedua.

aku pucat pasi seketika
bagaimana bisa?
bahkan mengakhiri kisah ini pun belum.
aku tetap meracau tanpa henti 
manakala seseorang yang berwajah sungguh cerah itu menggenggam lenganku
perlahan
membalikkan tujuan

disela menuju titian yang baru
ku menatap ke arahmu
ke wajahmu

tergeletak disana, seorang ia sedang menatap pilu penuh sesegukan sebuah bingai gambar klise.
didekapnya pula kemudian.
ia berbisik perlahan.
..semoga kau tenang. semoga Tuhan masih menghantarkan rinduku yang tak berujung padamu. semoga..

#terinspirasi dari sebuah film, if only.

Minggu, 26 Februari 2012

Sajak Minggu Malam ; Sendirian.

Selamat Minggu Malam, hingar bingar kota.


seperti pasir putih tersapu awan jingga yang sejenak tertawa.
memastikan seluruh peluk dan rasa tiba pada masanya
memenuhi ujung satu dinding persinggahan
memburu tiap asa yang mengakar
menjamah onggok demi onggok kehampaan yang lelah terpekur 
di kedalaman pahit yang tak habis aral


menjegal tiap perasaan
mendendangkan lagu pesakitan
memupuskan seluruh perjalanan panjang
menuju satu laku kehadiran semesta raya.


malam kian memekat jerat
didekapnya sekotak bejana yang hampir binasa
menjamahi pelbagai hati hati kosong
menjelajahi butir butir asa yang menggenang
menumbuhsuburkan penantian
mengembangkan harapan


semesta tidak berdusta
hanya saja harapnya terlalu sederhana
terjebak dalam desak sesumbar petaka
tampak lebih hina, dari mereka.
mereka pemuja rasa, pemuja cinta, pemuja malapetaka.


malam hendak kembali ke pembaringan
ia lelah mengusap penderitaan
ia lekas menyudahi pencitraan
lalu membenamkan sekelumit cinta pada jelaga hitam. 
sendirian.


malam yang tidak pernah ingkar janji.
ia akan datang lagi. dengan cinta yang tidak setengah hati. 
pasti.

Sabtu, 25 Februari 2012

Kisah Klise dan Kamu!

bibir ini terlampau kelu untuk menampik rasa sengit yang telah kau haturkan. kau memang selangkah berlebih dari orang-orang itu. meski ku tau di luaran sana masih terbengkah banyak angka yang menyerupai kamu.
tetapi bagiku, yang seperti kamu cuma satu. dan iya itu memang kamu.


candamu membuatku berantakan. tawa berserakan. menahan geli dan mendongak pelan saat candamu mulai membahana. kau tau aku suka, caramu mendaur ulang rasa begitu sempurna. harus ku akui jejakmu serupa membekas di dinding dinding senyumku. taukah kamu?


di sela jeda, sapamu kadang basa basi. sekedar hanya pengisi waktu senja. hanya saat kau ingin bercerita. tetapi aku tak menangguhkannya, waktu itu kurasa aku beruntung, dapat kawan dengan tawa lepas dengan kekhasannya yang tak terduga. teman bicara yang setia. aku suka ketika kita saling berhalusinasi tentang bagaimana kita melucuti masa, saat bagaimana menarik-ulurkan rasa yang tak ternyana.. mulai bereinkarnasi dalam bilik linikala kita berdua.


sejujurnya aku juga tak menyadari, juga tak menampik keganjilan rasa dalam batin kami. 


yang ku tau, begitu merah jambunya pipiku saat kau menatapku kala itu.
duduk berdua di tengah keramaian yang menyelimuti kota.
menghabiskan ber-ribu-ribu detik, yang begitu menyergap cepat. memburuku untuk cepat cepat menyelesaikan makan malam pertamaku, bersamamu.


menegaskan kembali seluruh warna yang tercipta,
meluruhkan seluruh luka dalam bejana jelaga,
menghantarkan rasa yang tertangkap basah sedang memperhatikan wajahnya.


kisah klise di malam kamis yang berakhir bahagia. 


Rizki Ramadhani
@kii992

Kamis, 23 Februari 2012

Semesta dan Linimasa Cinta.

seperti biasa,
kau memintaku tetap terjaga dalam dini hari tanpa suara.
melempar canda merengkuh bahagia.
setidaknya, itu pernah terjadi.


kita berpeka tanpa menatap semesta,
saling bersapa tanpa mengenal kasta.
lalu kata demi kata mengisyaratkan
rona bahagia itu hampir nyata.


sampai suatu ketika,
malam pun enggan membendung asa
yang ingin kita rengkuh berdua.
ia melantunkan jejaknya jauh lebih cepat,
melesat kilat.


kemudian,
semesta masih berbaik hati mengeratkan kita dalam sketsanya.
mengurai kata dalam tiap sapa,
mengentas abu dengan doa merah jambu.


satu sapa hilang, terbang terbawa angan malang.
dua sapa enyah, dari malapetaka gundah.
tiga sapa melebur, seriring terkuburnya perngharapan


semesta mengulang kehadirannya,
ia tak sempat menyatakan duka,
tak urung menuntaskan luka,
ia hanya terpekur dalam kesunyian yang terkenang.


aku memandang semesta dalam keagungannya.
"inikah yang semestinya, semesta?" 
semesta berdenging. berbisik di balik jelaga malam.
menghilang.


ia pergi.
dengan canda yg telah menjadi canduku,
dengan kisah yg sulit kutelaah,
dengan benahan asa yg tertumpuk sia-sia.
sesal sisanya.


kini, 
tak ada sua untuk memenuhkan rindu yang berkepanjangan untukmu.
tidak ada.
yang tersisa hanya aksara pertanda,
dan sekelumit misterinya.


biarlah sedikit kala menemukan cinta sempurnanya, lalu semesta membumbungkan keajaibannya. tunggu saja :)


with fully honorable For you, Mr. S.


@kii992

Selasa, 21 Februari 2012

Semestaku kamu, Semestinya.

Pagi yang dingin, mendinginkan suhu hatimu, membekukan benih benih rindu. memekakkan masa masa palsu yang terpaut tujuh jeda. Tidak sedetikpun menjelaskan sapa.

Kata seorang yang sering ku pinjam sandarannya, rentetan kisah ini berpotensi. ada indikasi untuk menuai hasil dari jari jemari yang melangkah atas tiap gerakmu. terlebih, yang kuingini justru kamu dan seutuhnya kamu. bukan hanya kisah yang semu. bukan juga hanya kata tercetak dari kenangan yang tergenang di sela waktu. Dapatkah semesta memberiku kamu?

Dan sepenuhnya yang harus kau tau, di sisi tepian peluhku yang memuai begitu saja, tidaklah akan menjadi sia-sia. Kelak, tunggulah semesta melakukan kewajibannya :)

kiki ramadhani
@kii992

Senin, 20 Februari 2012

Kamu Hilang

Senin pagi, hawa dingin menyapa lembut, mengentas hasrat untuk kembali ke pembaringan. Menghela pelan. Sesaat setelah menyapa dunia maya, linimasaku tertera jejakmu. tidak lagi merah jambu. tidak lagi.
Ada sedikit sesak yang menyeruak, memancing riak untuk berteriak sampai serak. Ada sesumbar yang tersebar, membuatku makin terbakar sampai akar. 
sesayu yang layu.


bahagiakah kau ?
sudahkah nafasmu menjadi nyawa bahagia dia yang lain?
apakah candamu sudah mengikat candu untuknya?
entahlah.
hanya kau dan keyakinanmu dengan segala yang kau pahami yang tau.


Ada rumput laba laba di atas untai putih, 
mengikat jari jemari pesakitanku
Ada jingga di sela senja yang merintih
mengaduhkan seluruh wujud laku memaku


Kamu Hilang.

Senin, 01 Agustus 2011

jatuh

sesak otakku kini .
mendera terpaan bayangmu.
lelah bejana diriku merasa.
tiada asa yang nyana .

terhempas tangis sang penceritera .
terbius jelaga hampa matamu .

aku terpaku tergores luka .
lalu menangis dalam tawa .

aku terhenyak menatap serpihan asa .
dan memandang buta mereka .

peluh ini penuh membasahi janji .
darah ini telah merasuki benci .

ketika tatapan kosong ini kan segera kembali ..

kuyakin ku kan pergi dari semua siluet halusinasi ..

jeritan nurani (antologi puisi Bengkel Sastra Balai Bahasa Yogyakarta 2008)

Beratap langit kelam jelaga
aku bersimpuh bagai seonggok nyawa tak berharga
beralaskan sajadah doa yang kurasa
menanti ijabah mendesah resah
malam kian menetes satu-satu
ilusi fana membelenggu
nurani diam berteriak
menanti kasihMu

setitik keindahan

terpandanglah langit .
menatapnya yang mulai tertutup kelabu .

Tulisan biru ,
dan tangan tangan kecil yang kadang mengadu .
kini tertunduk dan terpejam.

dalam angannya ia berkata :
kau tersipu mengabu .
di antara getah pilu nestapa.
di kala pelangi senja yang tag terkira adanya .

tersapalah sepi pada matahari .
sapa pada hari yang mau mati .
sapa sang penanti pada lilin yang hampir mati .

mentari pun meneriakkan hampa .
membuyarkan keheningan sang purnama . 
mentari membelai asaku
menerawangku jauh melayang .


aku mengernyitkan dahiku .
sesaat kemudian..

aku tersipu ..

SAAT SENJA MENGIRINGI LAGUKU

hawahawa pelukmu merasuk ke relung jantungku .

ketika itu butiranbutiran mutiara membeku .
dan aku tetap saja merindu.

lentera yang terpancar dari bilik kunangkunang itu menujuku .

ketika itu bintang biru masih saja merenungi malam .
dan aku masih berdiri tanpa pijakan bumi.

lorong sukmaku mengaduh.
seluruh jiwaku luluh lantak ..
ku tersedu tak menahu kemana langkahku beradu .

jejakan tanah fana nan tandus menggelayutiku.
ronarona pelangi tiada enggan kembali ..

kucoba tersenyum dalam sesalku .
kutatap purnama di musim semi ..
ku membisu lagi .

:: derai derai air mata cinta .
yang kini tak lagi bernyawa,
mengiringi laguku ..
dibalik senja .

ingin hilang ingatan

malam malam syahdu .
terdudukku membelenggu .
terendam senyap kian tak terperii .
dingin menghujam kekalutanku .
menggugah pelita yang masi enggan menyapa .

lukisan lukisan memori yang tersirat ,
mengabur dan terbang ., 

edelweis gugur satu satu .
seiring untaian tangis mungilku .
dalam isak penuh elegi,

aku berucap .

: akankah kembali ?

dilema

kutatap setengah laburan purnama semi.
tertoreh selembar lembayung jelaga tak ternyana .

tatkala itu untaian bintang berbicara .
mereka reka apa yang kurasa .
gelaktawa sang bulan membahana .
menertawakan aku yang tengah menatap mereka .

aku menggeleng .

tak tampak bayangbayang siluet wajahmu .

aku rindu .

katakan padaku bahwa pelangi itu biru .
dan ucapkan padaku asaku tak lagi membeku .

kala belenggu pujangga membuyarkan lamunku .
kala percikanpercikan bisu tak lagi menderu .
ku pejamkan mataku lalu ..


aku tak tahu ..

elegi fatamorgana

sesaat terjerembab di tengah wahana kesunyian .
titiktitik kelabu datang kembali menerkaku .
lalu gumpalan hawa merah merasuki tubuhku .

runtuhlah bisuku kini .
bungkaman peluhku menetes sudah .

aku lelah .

segenap raga ku coba tak ada asa .
enggan bergeming .
tak kukira .. gelaktawa kini hanya sandiwara .
aku mematung seraya memandangi diriku di antara serpihan air mata kecewa .

terngiang akan satu masa itu .
Ah , aku bosan!
tak ada pelangi saat hujan selesai berbicara .
yang tampak hanya fatamorgana semu .
yang tak cantik , juga indah..

aku menunduk .
meringkuk mendekap jiwa fanaku .

akan kemanakah langkah ini beradu ?

kan kujejaki episode demi episode ini .
satu demi satu ..

pencarian (antologi puisi Bengkel Sastra Balai Bahasa Yogyakarta 2008)

siluet kelabu terasing jelaga .

mengintip ,
dari balik belenggu pujangga .,

mendekat 
berbisik ,

: dimanakah dia ?

Minggu, 31 Juli 2011

HILANG satu.

halo kamu.
sudah nyaman ya dengan hidupmu yang kini?
dulu,
seberapa masapun
kita tak bersua
kita masih bersama
mengisi canda
menghapus canda
tidak pudar
tidak layu
tidak pupus
tidak berpendar
tidak pula tenggelam
sembilas belas tahun
berdampingan
bertepikan tembok putih
penghalang
itu bukan alasan
untuk tidak bersua
untuk tidak bercengkrama
dan saling berderma
saat itu
aku tau
ya saat itu
sesuatu terjadi
lambat
cepat
mengusik
menyeruak
merebakkan
sesuatu.
berubah.

sepasang kupu kupu 
yang BIASANYA
hinggap di ranting yang
berkaitan itu 
tak nampak lagi
salah satu dari mereka,
tak sengaja
mengingkari
janji mereka
sendiri


Rabu, 03 Februari 2010

ketika kata menjadi sebuah makna

sesaat sebelum itu , aku tak apa . masih tertawa dan bercengkrama . suasana hening kemudian . Lalu. . aku terngiang akan memorii di pelupuk mataku . dan menggenangkannya disana . sesekali kuusap genangan itu , dan ku tindih dengan tangan mungilku . wanita itu masuk kemudian . tanpa mengetuk pintu duniaku . ia berkata , "sudah..apa guna dia teringat .. sudah barang tentu, dibenaknya saja tak ada" . aku termangu , dan wanita yang kusebut ibu itu membiarkanku terpaku pada sebuah pemikiran ini . memang ini hanya secuil teka teki sederhana . tapi memahaminya tak semudah mengetik dalam note ini . petunjuknya : 'hanya yang berhak menemukannya yang dapat mengungkapnya' gerak jemariku dipercepat . beserta malam yang letih terlampau . otak yang turut mungil ini menujunya . setelah itu aku mengatakannya dengan sangat terbata bata . . . perlahan. .berbisik . . bahkan tanpa suara . . . :: k-e-t-i-k-a k-a-t-a m-e-n-j-a-d-i s-e-b-u-a-h m -a- k- n-a anything is look simple , isn't it ?